Keindahan Ombaknya. . .
tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
berdua kita hadapi dunia
kau milikku ku milikku
kita satukan tuju
bersama arungi derasnya waktu
kau milikku ku milkku
kau milkku ku milikku (tulus-teman hidup)
Rasa ini rasa yang sekarang ada seperti ombak yang menggulung deras, betapa hebat nya engkau bisa menciptakan gulungan ombak yang deras ini sehingga jujur aku tak mampu menahanya.
Dulu aku bagaikan dalam sebuah kapal kecil di tengah samudra luas hanya ikan-ikan kecil yang menemani, dulu aku melihat semuanya dari jauh aku berfikir aku masih terlalu kecil untuk bisa menyentuh apa-apa. Berjalanya waktu derai air pun bergerak menemaniku dalam setiap perjalan hidup yang kutemui. Apakah ikan-ikan itu terlalu bersifat indah sehingga aku terbuai dan masuk dalam jeratnya, bermuka dua itu membuatku menjadi rusak.
Naiklah lagi aku dalam kapal kecilku. Aku semakin tumbuh semakin mengerti mana ikan yang bisa membimbingku dan mana yang akan menjeratku. Entah kuasa tuhan pikiranku menjadi berkembang sampai saatnya tibalah aku bertemu dengan ombak yang sangat indah. Kata orang itu ombak ganas tapi aku tak melihat itu aku melihat dari sisi yang lain dan tibalah saatnya aku masuk dalam ombak itu. Kujalani setiap waktu setiap kejadian ku resapi semuanya dan menjadikan aku sangat mencintai ombak ini. Ombak ini terkadang sangat lembut membuaiku tetapi terkadang ia juga sangat deras menamparkan pada setiap airnya.
Dua hal yang aku alami. Aku mendapat pengalam indah saat masuk ombak ini tetapi aku juga tidak kembali ke dalam kapal kecilku. Butuh pemikiran panjang akan hal ini, dunia itu indah seperti kelihatanya tapi saat kita masuki itu tak seindah kelihantanya. Aku kembali dalam kapal kecilku, mengarungi samudara kembali, kembali dalam kehidupan normalku,kembali mengejar apa yang aku inginkan. Tuhan memang baik ia selalu membimbing ku saat aku sangat berusaha. Dalam ke normalan ku menjalani hidup tak luput aku selalu mengenang indahnya ombak itu selalu teringat saat aku bermain dalam putaranya, ombak yang lembut membiarkan ku basah dengan airnya membuatku tertawa membiarkanku mengambil alih dalam kisahnya.
Setelah aku alami setengah hidup normalku, saat aku sedang sangat tenang dalam kapal kecilku ombak itu datang lagi. Aku marah aku sangat marah aku menangis aku tak berani melihat. Ombak itu menungguku diluar kapal, ia menunggu seperti apa yang kita lakukan dahulu, aku tak kuasa aku beranikan belai ombak itu aku biarkan tanganku basah aku biarkan semuanya basah, dia tetap menggenangiku dengan perlahan sangat berbeda dengan dahulu, ia lembut ia tenang ia bukan ombak yang ganas lagi. Aku pasrah, aku bermain bersamanya lagi, ia membimbing kapal kecilku bersamanya dan. . .aku menyukainya.
Ombak ini memberikanku banyak rasa. Rasa sedih senang bahagia. semua rasa yang tak semua bisa memberikan kepadaku. Bimbinglah aku jangan kecewakan setelah aku memasuki derasnya ombakmu lagi. Dan setelah setiap kejadian ini apakah kita hanya teman hidup saja? kuharap lebih.
Komentar
Posting Komentar