Sepenggal Cerita Seorang Gadis Penuh Impian

Sepenggal Cerita Seorang Gadis Penuh Impian

Waktu kecil dulu
Mereka menertawakan
Mereka panggil ku gajah
Ku marah ku marah
Kini baru ku tau
 Puji di dalam olokan
Mereka ingat ku marah
Jabat tanganku ku panggil aku gajah
(Gajah – Tulus)

Mungkin lagu itulah yang dapat mewakili masa kecilku saat itu. Saat aku kecil dulu badanku gemuk dan sering diejek oleh teman sekelas.. Saat dimana masa SD dan SMP aku adalah anak polos, dan SMA tahu apa itu rasa suka terhadap lawan jenis dan masa kuliah masa dimana keresahan akan masa depan muncul. Walaupun saat ini badanku tetap gemuk tetapi bedanya saat ini aku bisa menghasilkan sesuatu dan mengerti akan nilai kehidupan

Nama ku Sani Rusyda Rahmani, panggilanku  Sani. Riwayat pendidikan ku SD Centeh, SMP 43 BDG, SMA 16 BDG, dan Universitas Pendidikan Indonesia.
Dari SD hingga SMP aku adalah anak yang manja. Tidak pernah pacaran dan tidak tertarik dengan lelaki pada saat itu. Tetapi ketika  memasuki  masa SMA dunia seakan berubah. Aku punya banyak teman. Jumlah mereka ada delapan dengan berbagai karakter yang unik. Saat memasuki SMA aku sering melakukan touring dengan teman kelas, seperti pergi ke Lembang atau Subang. Mungkin hal ini yang menjadikanku dekat dengan beberapa lelaki.
Saat aku SMA adalah masa dimana benih ketertarikan dengan lelaki muncul. Banyak orang bilang hal itu wajar karena proses dari pubertas. Tetapi aku tidak terlalu mewajarkan itu. Aku lebih mewajarkan masaa SMA adalah masa “free”. Kebebasan bisa bermain dengan banyak teman dan melakukan hal apapun tanpa memikirkan apa akibatnya. Yang ada hanyalah sekolah, teman dan bermain. Dan masa berpikir kenakan-kanakan seperti itu berubah ketika aku kelas 3 SMA.
Saat itu ketika ada orang bertanya “Sani mau kuliah dimana?” dan akupun selalu menjawab “UPI” padahal di dalam hati kecil apakah aku bisa masuk UPI, jurusan apa yang akan aku ambil? Aku tidak tahu.
Di setiap buku tulis, di dinding kamar, penuh dengan tulisan UPI.  Tulisan yang saat itu akupun tak merasa sanggup apakah aku bisa masuk ke Universitas Negeri itu.
Waktu berjalan dengan cepatnya hingga tiba disaat aku benar-benar bisa masuk UPI jurusan Ilmu Komunikasi. Sejujurnya aku menangis saat itu. Kenapa komunikasi? Kenapa harus jurusan baru? Jurusan yang aku tidak tahu masa depannya seperti apa.
Tapi itulah takdir. Takdir yang telah digariskan tuhan mulai dari rejeki, jodoh, kematian telah digariskan ketika roh kita telah ditaruh di perut ibu saat umur 4 bulan.
Saat ini aku merasa bangga masuk jurusan Komunikasi. Aku banyak belajar. Mulai dari cara berorganisasi, melatih sikap kritis dan kepemimpinan.
Saling menghargai antar teman dan bersyukur akan sesuatu baru aku dapatkan ketika masuk akademisi. Di dalam kepala selalu banyak ide-ide untuk menata masa depan. Impianku dimulai dari sukses sebelum wisuda, melanjutkan studi S-2, memiliki bisnis rumah makan, pakaian dan fotografi, menikah sebelum umur 23, memiliki rumah pribadi dengan gaya klasik, dan cita-cita terdekat saat ini adalah mengelilingi seluruh pantai di Indonesia.
Sungguh indah jika sedang melamunkan impianku itu. Impian yang semula semua ada di kepala, mulai ku tuangkan dalam bentuk tindakan. Seperti mencari beasiswa untuk biaya travelling, mulai membuka bisnis Fotografi dengan teman kampus agar bisa sukses sebelum wisuda, dan mengisi kegiatan dengan mengikuti seminar, lomba foto, ataupun menulis artikel. Hanya satu harapanku. Yaitu bisa mewujudkan semua impian yang aku inginkan. Semua manusia memiliki keinginan impiannya terwujud. Yang membedakan adalah bagaimana cara seseorang dalam mewujudkannya.
Aku Sani, gadis yang dulunya sering diolok-olok dengan yakin menyatakan akan berjanji mewujudkan semua impian dan cita-cita ku.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer