Cahaya Seorang Ibu









Umurnya tak muda lagi. Manis pahitnya kehidupan sudah pernah dirasakan. Bertahan menghadapi berbagai godaan sudah lolos sepertinya. Hanya tinggal cinta dan mimpi yang membuatnya terus semangat. Pagi ini senyumnya muncul lagi membangunkan kedua anaknya Sani dan Anis.

15 tahun silam

Pagi ini terasa berbeda dengan pagi biasanya. Hari ini dia agak malas sambil bermanja-manja di kasur sambil memeluk selimut kesayangannya. Ah sungguh lelah hari ini.
Treng treng treng !!! “Bangun geura bangun barudak!” teriakan sang Ibu dari luar kamar (ayo cepat bangun anak-anak)
Dibuatnya suara gaduh dari panci dari luar kamar agar ketujuh anaknya bangun tepat waktu. Cepat-cepat dia keluar dari kamar dan mengambil air wudhu dilanjutkan solat berjamaah. Ya, dia anak kelima dari tujuh bersaudara, laki-laki 4 bersaudara dan perempuan 3 bersaudara. Aku masih ingat nama-nama nya, mereka adalah Nana, Nining, Nani,Kamal, Mariani, Hadi, Kartiwa.
Nana saat ini sudah pengsiun dan memiliki seorang anak yang akan melanjutkan ke S3 di Jerman. Nining saat ini sudah pengsiun dari jabatan seketaris Dinas Pertanian Bogor. Nani merupakan karyawan Dinas Pembangunan Bandung. Kamal merupakan karyawan dari PT KAI, Hadi saat ini menjadi guru Agama dan sedang melanjutkan S2 dan Kartiwa saat ini bekerja sebagai seorang guru Seni dan Arsitek.
Tujuh anak ini berasal dari pasangan Kamil Suparma dan Siti Khodijah, nama yang indah bukan? Mereka adalah kakek dan nenek ku, yang hanya kulihat sampai umurku 2 tahun.
-
Usai solat berjamaah, Mariani atau panggil saja Mary langsung mengambil sapu dengan cekatan dan membersihkan rumah tanpa perintah. Kaka dan adiknya ada yang mencuci piring dan ada yang bersiap mengepel lantai. Kegiatan beres-beres seusai solat subuh merupakan kegiatan rutin dalam keluarga ini. Ayah mereka sibuk di dapur menggoreng tahu dan tempe yang merupakan menu sarapan kesukaan keluarga. Dan sang ibu pergi ke pasar  membeli sayur dan lauk pauk untuk dimasak makan siang.
Seusai kesibukan beres-beres rumah, meja makan sudah rapi. Kepulan asap dari nasi yang baru matang, goreng tahu dan tempe dengan tekstur kering membuat perut keroncongan. Dan pelengkap teh hangat sudah  dituang di masing-masing gelas. Ke tujuh saudara ini segera mengambil posisi di meja makan dengan mata membulat, lapar. Segera ayah memimpin doa sarapan pagi ini lalu disusul oleh tangan-tangan yang mulai mengambil makanan dan menikmatinya. Sungguh pagi yang indah dan ada sesuatu suatu hal yang dimulainya sebuah cerita hidup Mary.
-
Ayah mereka memang ayah yang pengertian, rajin memasak, penyabar dan pintar. Sedangkan ibu adalah pribadi yang cerewet, disiplin, konsisten dan penuh nilai moral. Sehingga Mary lebih dekat dengan ayah, karena dianggap lebih pengertian. Buka berarti tak dekat dengan sang Ibu, tetapi katanya Mary agak takut jika curhat pada Ibu nya sedangkan dengan Ayah bebas bercerita.
“punten” (permisi) ternyata di luar ada tukang Pos.
“ya manga aya naon Pak” (iya ada apa pak?) saut Mary dari teras rumah dan meletakan sapu nya di pinggir pot bunga.
“ini bu ada surat kanggo Bu Mariani, leureus bu?” (ada surat untuk bu Mariani, benar?) Tanya tukang pos
“iya saya pak” Jawab Mari sambil mengambil surat, dan mengucapkan terimakasih seketika tukang pos pergi dengan ratusan surat nya.
Ketika di lihat ternyata surat tersebut surat resmi dari pemerintah. Mary bingung mengapa mendapat surat resmi seperti ini, disimpannya surat di kamar, Dia tidak menghiraukannya dan kembali menyapu rumah.
Oh iya akan kuceritakan sedikit tentang rumah Kakek dan Nenekku. Rumah itu berada di jalan Jend. Ahmad Yani dan mereka asli orang Bandung. Rumah itu cukup besar untuk membesarkan ketujuh anak nya. Di depan rumah terdapat halaman seluas 3x7 ditanami rumput dan pohon kelapa, aneh bukan ada pohon kelapa di tengah kota?. Masih dibagian halaman terdapat kursi yang terbuat dari batu marmer biasanya digunakan jika ada teman dari Mary main ke rumah, kursi tersebut sering dijadikan basecamp teman Mary sambil bermain gitar atau sekedar mengobrol. Seperti rumah pada umumnya di bagian dalam terdapat ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan halaman belakang. Halaman belakang biasa digunakan ketujuh saudara berkumpul. Ya pada intinya rumah mereka itu penuh dengan tanaman dan pohon kelapa, jujur masih heran hingga saat ini kenapa ditanami pohon kelapa di perumahan perkotaan.
“Mar itu surat naon?” (surat apa itu?) Tanya Nani, kakak Mary
“gatau belum dibuka” jawab Mary singkat.
“geura buka atuh” (cepet buka) paksa Nani
Tanpa disuruh Mary langsung membuka malas, dan membaca nya
Selamat kepada Mariani Hasnaniah Anda LULUS sebagai PNS Jawa Barat
Dibaca nya lagi surat tersebut, tetap tidak berubah. Ya Tuhan Dia tak percaya atas isi surat tersebut, seketika air mata mengalir di pipi nya yang lembut.
-
Hari ini kehidupan baru telah dimulai. Mary telah lulus sebagai PNS dan mendapat dinas pertama mengajar ke daerah Banten tepatnya di Pandeglang. Mary menyewa sebuah rumah dengan teman satu sekolah nya agar tidak terlalu memberatkan dalam biaya. Sebenarnya Dia berat meninggalkan orangtua nya di Bandung, karena kaka nya Nana, Nani dan Hadi tengah bekerja di Bogor dan Jakarta. Tapi apa boleh buat, hal ini adalah yang Ia tunggu menjadi seorang Guru PNS dan mengajar. Tidak terasa sudah sudah satu minggu Mary mengajar disana. Mengajar disana katanya asik, guru-guru masih banyak yang muda sehingga enak untuk bergaul, juga murid yang Dia ajar baik dan penurut. Hari ini biasanya Mary langsung pulang ke rumah tetapi hari ini Dia akan berkunjung ke rumah temannya yang berasal dari Bandung.
Pandeglang memiliki suhu rata-rata 30 derajat, tidak masalah bagi nya untuk bermain ke Kosan temannya seusai mengajar. Mengingat tidak ada kegiatan di rumah lebih baik main sambil melihat sekeliling daerah Pandeglang selama perjalanan.
“Assalamualaikum” ucap Mary dari luar pintu Kosan.
“walaikumsalam, eh Mary, kirain ga jadi kesini” balas Ani
“iya bosen di rumah”
“yu masuk aku lagi bikin goreng bakwan, pasti laper kan belum makan?” Goda Ani
Mary nyengir penuh bayangan hm bakwan pakai sambel cengek di tambah nasi panas nikmatnya! Segera Dia pun masuk tanpa disuruh untuk kedua kali.
Ani memang teman dekat Mary ketika di Pandeglang, dia lebih dulu tinggal disini sehingga mengetahui Kota ini sebagian besar. Ani juga mengajar dan sebagai PNS di Pandeglang, tetapi beda sekolah dengan Mary. Oh iya makanan faforit Mary dan Ani adalah bandeng bakar khas Banten dan tempat liburan faforit adalah Pantai Carita hampir setiap minggu mereka kesana bersama guru-guru atau temen Kosan Ani.
Kosan Ani cukup besar, terdapat dua lantai sebanyak 6 kamar. Lantai atas perempuan dan Lantai bawah laki-laki, terdapat juga dua kamar mandi, lantai atas dan bawah dan dilengkapi dengan dapur. Bagian atas Kosan terdapat ruang nonton TV biasa digunakan jika ada tamu datang. Seusai menggoreng bakwan, Mary dan Ani duduk di ruang TV. Benar dugaan Mary, terdapat sambel cabai dan nasi panas, sudah tak tahan rasanya. Akhirnya mereka makan siang ditemani obrolan ketika mengajar pertama kali. Dan kegiatan makan mereka terhenti ketika dari kamar mandi keluar seorang laki-laki telanjang dada dan hanya memakai handuk dipinggang sambil membawa alat mandi di tangan kanan nya, dan yang membuat Mary ilfiel adalah kulitnya yang hitam dan tingkahnya yang tidak sopan, bertelanjang dada ketika ada tamu.
“eh ada tamu” ucap lelaki itu tanpa malu
“ih ai maneh laina di Baju! Teu era kitu ku tamu?” (ih bukannya di baju, gak malu gitu sama tamu) Jawab Ani kesal melihat kelakukan temannya
“menta lah Bakwan na, lapar hehe, nuhun nya Ni” sambil mengambil Bakwan nyengir lelaki itu turun tangga dan kembali ke kamar nya.
Ani minta maaf pada Mary atas tingkah teman kosan nya, namanya Komar panggilanya Koko. Koko ini seorang PNS di Dinas Ekspor Impor Jabar dan sedang dinas di Banten. Koko memang suka becanda, kadang ada saja kelakuannya jika ada orang baru datang ke Kosan. Dalam hati Mary berkata “ih amit-amit punya suami ga sopan kaya gitu terus item lagi”
Tak terasa hari hampir malam Mary pamit pulang karena sudah pukul 5 sore, cucian belum di cuci ucap sembari pamit Mary pada Ani.
Setelah pamit Ani menuju kamar dan ternyata Koko menghampiri Ani dan berdiri di tiang pintu kamar menghalangi.
“Ni nu tadi saha, baturan ngajar?” (tadi siapa, temen ?) Tanya Koko antusias
“enya” (iya) jawab Ani pendek sambil sibuk membereskan buku untuk mengajar besok pagi.
“saha ngarana?” (siapa namanya) Tanya Koko lagi
“tanyakeun we sorangan” (Tanya aja sendiri) Jawab Ani ketus masih sibuk dengan buku nya.
“geulis, salam nya” (cantik, salam ya) jawab Koko nyengir lalu berbalik pergi untuk kembali ke kamar nya.

-
Minggu pagi langit benar-benar cerah dan Sabtu kemarin Ani mengajak Mary ke pantai Carita. Mereka tidak pergi bersama tetapi janjian bertemu langsung di Pantai. Ketika Mary sampai di Pantai, mata nya memicing sambil mencari sosok Ani karna siang itu panas sangat terik apalagi saat ini di Pantai. Dari kejauhan seorang lelaki melambaikan tangan nya, Mary bingung dilihat lamat-lamat ternyata lelaki itu! Ya itu Koko yang melambai pada Mary. Mary pun mendekat dan bertanya dimana Ani lalu Koko memberi tahu bahwa Ani sedang memilih ikan untuk dibakar untuk lauk makan siang mereka. Mary tidak tahu bahwa Ani mengajak Koko juga ke Pantai, dikira hanya berdua saja. Jadilah Mary dan Koko mengobrol di pinggir pantai sambil menunggu Ani membawa ikan.
“Kita belum kenalan” ucap Koko memulai obrolan
“dari Ani belum kenal?” Tanya Mary dingin sambil menatap ombak
“kemarin bukan kenalan, kemarin saya nyolong bakwan” jawab Koko penuh kesabaran melihat tanggapan Mary yang dingin.
“ulangi lagi ya biar keren, nama saya Koko, nama kamu?” Tanya Koko sambil nyengir
Belum sempat Mary menjawab Ani datang sambil setengah berlari membawa ikan.
“Mary..!” teriak Ani, “Maap lama yaa”
“oh namanya Mary” ucap Koko sambil melihat wajah Mary.
Mary hanya diam tidak menjawab.
Kedatangan Ani disambut dan mereka langsung mempersiapkan untuk membakar ikan. Pantai Carita pada waktu dulu memang terkenal di Banten, disana kita bisa membeli ikan untuk dibakar sendiri, atau jika tidak mau repot bisa juga langsung makan tanpa perlu membakar ikan sendiri. Siang itu mereka duduk di bawah pohon kelapa menikmati ikan bakar ditemani es kelapa muda dan sembeliwir angina pantai yang hangat.
“Ni pulang yu udah sore, besok beres ngajar saya mau pulang ke Bandung, Ibu sakit” kata Mary lirih
“sakit apa Mar?” Tanya Ani
“gatau, tapi biasanya kalo Ibu sakit harus ditemenin ku saya”
Seketika mereka membereskan barang-barang untuk bersiap pulang, dan saat itu juga Koko punya ide bagus.
-
Keesokannya Mary sejak pagi sudah berbekal untuk pulang, jadi beres ngajar Dia akan langsung ke Terminal Bis untuk pulang ke Bandung. Beres ngajar pukul 2 siang kemungkinan sampai Bandung malam hari. Jarak dari sekolah ke Terminal cukup jauh, maka seusai bel sekolah pertanda pulang berbunyi, langsung Mary bersiap menuju gerbang sekolah untuk lanjut naik angkot menuju Terminal.
“Punten Neng”
Mary nengok ke samping kanan nya, dan ternyata itu Koko. Ngapain Dia disini.
“kenapa bisa ada disini?” Tanya Mary heran
“mau naik angkot” Jawab Koko santai
“Maksudnya kenapa naik angkotnya disini? Kan Kosan kamu jauh bisa naik angkot dari sana “
“gatau, kebetulan, mungkin kita jodoh” jawab Koko dengan santai kembali
Mary hanya diam tak memerdulikan kata-kata Koko. Tak lama angkot datang dan mereka masuk ke dalam kendaraan umum tersebut.
Di dalam Angkot Koko hanya diam, Mary bingung dengan sikap aneh nya yang tiba-tiba muncul. Sebenanrnya Koko memang sengaja datang ke Sekolah dengan tujuan ingin mengantar Mary ke Bandung. Karena zaman itu alat komunikasi susah maka nekatlah dia datang ke Sekolah dan Ijin kerja, alasannya nenek nya meninggal. Demi mendapatkan informasi Sekolah Mary dimana dan kapan pulang nya, Anil ah yang manjadi jawaban. Awalnya Ani tak menggubris Koko, tapi keteguhan Ani kalah oleh pindang Bandeng sogokan dari Koko, akhirnya informasi yang dibutuhkan Koko didapat dan segera Dia meluncur ke sekolah.
Pukul 4 sore mereka baru sampai Terminal karena jarak yang cukup jauh dan jalanan yang agak macet membuat terlambat setengah jam. Mary bingung kenapa Koko mengikutinya terus. Dan ketika beres membeli tiket Koko pun membeli tiket yang sama dan mereka duduk bersebelahan di Bis.
“kamu ngikutin saya?” Tanya Mary kesal, akhirnya keluar juga pertanyaan itu
“engga, gr deh kamu, saya juga mau ke Bandung” jawab nya sambil membereskan tas nya
“ngapain?”
“hm ngapain yaa, pengennya sih lamar kamu” masih dengan jawaban yang dingin
Mary kaget. Ini anak kenapa kemasukan setan ya
“jangan bercanda” ucap Mary kesal
“saya serius liat aja nanti”
Mary masih tidak menggubris kata-kata Koko. Bis sudah mulai berjalan penumpang hari itu padat dan sekarang sudah pukul 7 malam. Di dalam Bis Mary hanya membaca buku, dan Koko hanya diam. Tak tahu berawal dari mana akhirnya mereka berbincang. Mengobrol tentang semua hal mulai dari hobi, pendidikan hingga keluarga. Mary baru tahu bahwa Koko adalah anak broken home, dan bapak ibu nya menikah lagi. Sehingga Dia memiliki dua ayah dan dua ibu. Yang membuat Mary merasa iba adalah, Koko sekolah dari uang beasiswa karena kedua orangtua nya tidak membiayai nya. Koko merupakan atlet pingpong yang membawa nya mengikuti kejuaraan sejak SMP hingga masuk kerja. Alhasil uang yang di dapat dari kejuaraan digunakan untuk sekolah dan biaya sehari-hari. Koko bisa menjadi PNS pun karena prestasi nya Pingpong. Dan Dia kurang dalam Agama, jarang solat dan mengaji karena kurang nya kasih sayang orangtua. Tak terasa cerita itu membawa mereka hingga sampai ke Bandung.  Saat itu sudah pukul 10 malam. Akhirnya Koko mengantar Mary ke rumah nya mengingat hari sudah larut.
“masuk dulu? ”
“sudah malam ga enak” jawabnya mantap
Akhirnya Koko pulang dan Mary masuk ke dalam rumah.
-
Esok hari Mary mengantar Nining ke Gasibu untuk mencari panci murah katanya. Karena Gasibu sejak dulu memang terkenal barang jualan nya murah. Dan kebetulan Nining, Nana dan Hadi datang ke Bandung karena weekend. Saat itu Nining dan Nana sudah menikah, Nana dikaruniai seorang anak, dan Nining sedang hamil anak kedua. Baru dua orang bersudara dari tujuh yang sudah menikah. Memang ketujuh saudara ini lebih focus pada karir sehingga mereka menikah rata-rata diumur 30. Mary juga saat ini sudah menginjak di umur ke 30. Dan sebenarnya banyak lelaki yang tertarik padanya, hanya sampai saat ini belum ada yang berani melamar. Karena jika dia yang melamar duluan InsaAllah itu jodohnya. Ketika itu Mary memiliki teman dekat, sudah hampir 6 tahun berjalan. Jarak yang jauh membuat mereka melakukan surat menyurat dalam berkomunikasi. Mary sudah nyaman dengan lelaki ini, tetapi Ibu nya tidak merestui, taka da alasan yang jelas kenapa begitu, maka Mary pun hanya pasrah sulit jika harus memberontak keputusan Ibu nya dan Mary tipikal orang yang santai jadi apapun yang terjadi jalani saja.
Seusai berbelanja Mary pulang ke rumah, kala itu sudah jam 11 siang dan biasanya makan siang sudah siap di rumah. Saat sampai di rumah Mary heran ada sepatu laki-laki, oh mungkin teman nya Nani dikira nya. Ternyata ketika sampai ambang pintu dan melihat siapa yang duduk di ruang tamu, Mary kaget itu ternyata Koko. Dan sekarang Dia sedang mengobrol dengan Ibu.
“kapan datang?” Tanya Mary pada Koko
“dari tadi Mar, Emih ngomong lagi nganter Nining” Jawab Emih. Emih adalah panggilan Ibu oleh ketujuh saudara ini.
“Ko sakalian makan siang dulu ya, tong heula pulang” (makan siang dulu jangan dulu pulang) Ucap Emih lagi sambil melangkah kaki ke dapur. Lalu Mary duduk sebelah Koko
“maap kalo datang tiba-tiba Mar”
“iya kalo datang nya agak pagian bisa sekalian ikut ke Gasibu, ngobrol apa aja sama Emih?”
“ngobrol banyak Mar”
Heran hari itu Koko serius sekali, tidak ada bercanda nya.
“ iya apa aja, biasanya Dia galak lo kalo ada laki-laki kesini” jawab Mary sambil tertawa
“Mar saya mau ngomong” Koko tidak menjawab pertanyaan Mary dan tidak menghiraukan gurauan yang tadi.
Mary diam mendengarkan
“Saya serius mau berhubungan sama kamu Mar, InsaAllah jika direstui minggu depan saya mau melamar. Tadi saya udah bilang ke Emih, katanya mau rundingan dulu sama anak yang lain. Saya ga minta jawaban hari ini Mar, silahkan dipertimbangkan” kata Koko mantap dan serius, matanya tak sedikit pun terlihat berbohong.
Mary sontak kaget, baru bertemu empat kali sudah dengan berani Koko mengambil keputusan ini. Sedangkan teman dekatnya yang 6 tahun saja belum berani datang ke rumah. Seketika Mary bingung tak tahu menjawab apa, menckoba merangkai kata.
“makasi Ko itu sebuah niat baik, InsaAllah Mary pertimbangkan dengan matang. Kalo boleh nanya kenapa secepat ini Ko, kita baru bertemu 4 kali” Tanya Mary sambil tersenyum    
“Jika sudah ada niat baik lebih cepat lebih baik lagi Mar “
“yasudah sekarang kita makan dulu, nanti ayam goreng nya keburu kabur” sambung Mary bercanda.
-
Setelah acara meminta persetujuan malam nya Emih dan ketujuh anak nya berunding membicarakan hal yang tadi. Emih bertanya seperti apa keluarga nya pada Mary, Mary menjawab jujur apa yang Dia ketahui. Ketika mendengar orangtua Koko pernah bercerai sontak Emih menolak. Semua tahu sifat Emih, Mary hanya diam tak banyak bicara menunggu hasil keputusan. Emih adalah tipikal orang yang sangat menomor satu kan keluarga, maka ketika memberi restu kepada menantu pun yang dilihat adalah latar belakang keluarganya. Adik Mary Hadi memberi penjelasan bahwa jangan melihat seseorang dari satu sisi lihatlah seluruh sisi nya, karena setiap orang pasti punya sisi buruk. Hadi juga mengingatkan bahwa Mary sudah tidak muda lagi, umurnya sudah 30tahun dan jika ada yang berniat baik dan anak kita mampu maka nikahkanlah. Emih bicara pada Hadi ingin Istihoroh dulu, maka keputusan pun mengambang.
Jika Tanya Mary bagaimana hatinya, hatinya saat ini penuh kebingungan, sebenarnya Dia masih mengharapkan lelaki yang suka mengiriminya surat. Dan Mary memutuskan untuk solat Istihoroh juga agar lebih tenang. Ketika memutuskan untuk tidur Mary mendapat mimpi. Di dalam mimpi itu Dia bertemu dengan Lelaki yang suka mengirimi nya surat Mary kejar lelaki itu tetapi Dia menjauh, semakin dikejar semakin menjauh. Mary bangun dan menangis, apakah ini sebuah petunjuk?
Di kamar yang lain, seusai solat Istihoroh Emih juga mendapat sebuah mimpi. Dalam mimpinya Emih melihat Mary sedang dipelaminan dan mempelai pria akan mengucapkan ijab kobul. “dengan mengucapkan Bismillahirohmanirohim Saya terima nikah dan Kawinnya Mary..”
Dan dilihat mempelai pria itu adalah Koko.
Seusai mendapat petunjuk dari tuhan, Emih merestui pernikahan mereka. Maka seminggu kemudian Koko melamar tepat di hari ulang tahunnya Mary dan satu bulan mempersiapkan pernik

Komentar

Postingan Populer